Tuhan, aku tahu ketampanan bukanlah tentang apa yang
orang-orang lihat dari diriku, tetapi tentang kebaikan yang mereka
rasakan dari sikap-hidupku, maka buatlah mereka selalu merasa bahagia
atas kehadiranku dan merindukan saat-saat kepergianku. Getar rasa dalam
dada, getar cinta dalam kata, maka biarlah hanya cinta yang terucap
dari bibirku… lalu bila mereka bahagia mendengar kisah-kisahku, dan
bila kisah itu melapangkan hidup mereka dan meringankan bebannya,
sesungguhnya aku hanya lelaki biasa yang ingin berbagi kebaikan. “Tuhan,
aku tak ingin meminta agar Kau menambahkan rejeki kepadaku karena aku
ingin
membeli sejumlah barang-barang mewah untuk mempertampan diriku.
Sungguh. Tetapi jika Kau tak keberatan, percikanlah cahaya-Mu agar
kebaikan selalu terpancar dari diriku untuk membahagiakan orang-orang
di sekelilingku. Sisanya, bila mereka merasa bahagia atas kehadiranku
dalam hidup mereka, lalu mereka ingin memberiku sejumlah hadiah, aku
pikir Kau tak akan begitu keberatan untuk mengabulkannya, kan?”
"Tuhan,
aku mencintai ibuku, maka bila aku memang boleh menyayangi dan
membahagiakannya, berilah aku kemampuan untuk menyayangi dan
membahagiakannya. Bila kecukupan harta bisa membantuku membahagiakannya,
sesungguhnya bukan harta yang kuminta. Tetapi bila cara itu memang
bekerja, apa boleh buat, kenapa tidak jika aku memang harus menjadi
orang yang kaya? Sungguh sebenarnya bukan kekayaan yang kuinginkan,
tetapi bila itu bisa menjadi sebab bagi terwujudnya sesuatu yang
kuharapkan, dan Kau mengizinkanya, aku sesungguhnya hanyalah lelaki
biasa yang tak akan sanggup menolaknya."
“Tuhan, aku menyayangi
ayahku, maka bila aku memang boleh membalas kebaikan hatinya yang
telah menumbuhkan hidupku sampai ke titik ini, izinkanlah aku
melakukannya. Bila prestasi-prestasi, ketinggian pangkat dan derajat,
posisi tawarku di hapadan masyarakat, dan apapun saja yang
membanggakannya bisa menjadi perantara bagiku untuk membahagiakannya,
sesungguhnya aku tak pernah meminta gemerlap dunia. Tetapi bila Kau
memang memperbolehkanku membalas kebaikan ayahku, dan bila cara itu
memang cukup bekerja untuk mereaksikan senyawa kebahagiaan di hatinya,
maka apa boleh buat, Tuhan, aku tak akan macam-macam kepada-Mu dengan
lancang menolaknya.
“Tuhan, aku menyayangi adik-adikku,
kakak-kakakku, keluargaku. Aku juga tahu betapa mereka mencintai dan
menyayangiku. Sia-sia hidupku jika tak pernah sanggup membahagiakan
mereka, Tuhanku. Maka tumbuhkanlah dari diriku sayap-sayap kebaikan
yang bisa membantu mereka menerbangkan doa-doa dan harapannya
kepada-Mu. Kabulkanlah doa-doa mereka. Ini bukan tentang menjadi
seseorang, ini soal menjadi bagian dari rencana indah-Mu tentang hidup
yang menghidupi dan hidup yang menghidupkan! “Tuhan, aku tak
ingin menjadi seseorang yang sia-sia menjalani hidup di dunia. Maka
bila keluasan akal dan kemanfaatan tindakanku bisa menjadi sumbangan
kecil bagi kebaikan semesta, sesungguhnya aku hanya meminta bantuan-Mu
agar aku mampu menjadi wakilmu di dunia. Ini bukan tentang diriku, ini
tentang tugas berat dari-Mu untuk menjadi kasih-bagi-semesta.
“Tuhan,
itulah doaku bagi semesta. Tentang diriku, cukuplah aku mencintai-Mu
dan Kau mencintaiku. Bila berkenan dan Kau punya waktu, biarlah kelak
kita bertemu. Aku sangat ingin menuntaskan rasa cinta dan rinduku
pada-Mu dalam pertemuan itu. Bila ternyata Kau juga ingin, maka akulah
lelaki yang paling bahagia itu!” “Amin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar