Text judul

Jumat, 28 Desember 2012

Keinginan Hati

Tuhan, aku tahu ketampanan bukanlah tentang apa yang orang-orang lihat dari diriku, tetapi tentang kebaikan yang mereka rasakan dari sikap-hidupku, maka buatlah mereka selalu merasa bahagia atas kehadiranku dan merindukan saat-saat kepergianku. Getar rasa dalam dada, getar cinta dalam kata, maka biarlah hanya cinta yang terucap dari bibirku… lalu bila mereka bahagia mendengar kisah-kisahku, dan bila kisah itu melapangkan hidup mereka dan meringankan bebannya, sesungguhnya aku hanya lelaki biasa yang ingin berbagi kebaikan. “Tuhan, aku tak ingin meminta agar Kau menambahkan rejeki kepadaku karena aku ingin
membeli sejumlah barang-barang mewah untuk mempertampan diriku. Sungguh. Tetapi jika Kau tak keberatan, percikanlah cahaya-Mu agar kebaikan selalu terpancar dari diriku untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingku. Sisanya, bila mereka merasa bahagia atas kehadiranku dalam hidup mereka, lalu mereka ingin memberiku sejumlah hadiah, aku pikir Kau tak akan begitu keberatan untuk mengabulkannya, kan?”
"Tuhan, aku mencintai ibuku, maka bila aku memang boleh menyayangi dan membahagiakannya, berilah aku kemampuan untuk menyayangi dan membahagiakannya. Bila kecukupan harta bisa membantuku membahagiakannya, sesungguhnya bukan harta yang kuminta. Tetapi bila cara itu memang bekerja, apa boleh buat, kenapa tidak jika aku memang harus menjadi orang yang kaya? Sungguh sebenarnya bukan kekayaan yang kuinginkan, tetapi bila itu bisa menjadi sebab bagi terwujudnya sesuatu yang kuharapkan, dan Kau mengizinkanya, aku sesungguhnya hanyalah lelaki biasa yang tak akan sanggup menolaknya."  
“Tuhan, aku menyayangi ayahku, maka bila aku memang boleh membalas kebaikan hatinya yang telah menumbuhkan hidupku sampai ke titik ini, izinkanlah aku melakukannya. Bila prestasi-prestasi, ketinggian pangkat dan derajat, posisi tawarku di hapadan masyarakat, dan apapun saja yang membanggakannya bisa menjadi perantara bagiku untuk membahagiakannya, sesungguhnya aku tak pernah meminta gemerlap dunia. Tetapi bila Kau memang memperbolehkanku membalas kebaikan ayahku, dan bila cara itu memang cukup bekerja untuk mereaksikan senyawa kebahagiaan di hatinya, maka apa boleh buat, Tuhan, aku tak akan macam-macam kepada-Mu dengan lancang menolaknya.
“Tuhan, aku menyayangi adik-adikku, kakak-kakakku, keluargaku. Aku juga tahu betapa mereka mencintai dan menyayangiku. Sia-sia hidupku jika tak pernah sanggup membahagiakan mereka, Tuhanku. Maka tumbuhkanlah dari diriku sayap-sayap kebaikan yang bisa membantu mereka menerbangkan doa-doa dan harapannya kepada-Mu. Kabulkanlah doa-doa mereka. Ini bukan tentang menjadi seseorang, ini soal menjadi bagian dari rencana indah-Mu tentang hidup yang menghidupi dan hidup yang menghidupkan! “Tuhan, aku tak ingin menjadi seseorang yang sia-sia menjalani hidup di dunia. Maka bila keluasan akal dan kemanfaatan tindakanku bisa menjadi sumbangan kecil bagi kebaikan semesta, sesungguhnya aku hanya meminta bantuan-Mu agar aku mampu menjadi wakilmu di dunia. Ini bukan tentang diriku, ini tentang tugas berat dari-Mu untuk menjadi kasih-bagi-semesta.
 “Tuhan, itulah doaku bagi semesta. Tentang diriku, cukuplah aku mencintai-Mu dan Kau mencintaiku. Bila berkenan dan Kau punya waktu, biarlah kelak kita bertemu. Aku sangat ingin menuntaskan rasa cinta dan rinduku pada-Mu dalam pertemuan itu. Bila ternyata Kau juga ingin, maka akulah lelaki yang paling bahagia itu!” “Amin.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar